Tanpa memberi Lynx kesempatan berbicara, Ling Mei langsung menerjang dengan tebasan cepat. Lynx hanya bisa berkelit ke samping, menghindari serangan yang nyaris mengenai lehernya.

“Ling Mei! Pakailah bajumu dulu! Kau tidak sadar dengan keadaanmu?!” seru Lynx sambil tetap menjaga jarak.

Namun, Ling Mei tidak peduli. Dadanya naik turun dengan napas memburu, matanya dipenuhi amarah dan rasa hina yang tak tertahankan. Selimut yang menutupi tubuhnya melorot ke tanah, tapi ia tidak memedulikannya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah membunuh Lynx di tempat itu.

“Diam!” bentaknya. “Aku lebih baik mati daripada harus menerima ini!”

Pedangnya bergetar, energi yang mengalir dari tubuhnya semakin kuat, tidak seperti sebelumnya. Lynx segera menyadari sesuatu yang salah.

“Ling Mei… tunggu…” Lynx mengerutkan kening. Ia merasakan aura yang aneh, sesuatu yang gelap dan liar.

Saat itulah matanya melihatnya. "Sial, kemana kalungnya? Sejak kapan Ling Mei tidak memakai kalungnya?"

Tanpa kalung artefak itu, energi iblis di tempat ini menyusup masuk ke tubuhnya, memperkuat kekuatannya berkali-kali lipat, mempengaruhi pikirannya yang sedang marah sekaligus membakar emosinya menjadi amarah yang tak terkendali.

Srak!

Sebuah serangan tiba-tiba menghantam udara tempat Lynx berdiri beberapa detik yang lalu. Tanah di bawahnya terbelah, menyisakan retakan panjang akibat kekuatan pedang Ling Mei.

“Ling Mei! Kau sedang dipengaruhi energi iblis! Jangan biarkan dirimu terperangkap dalam amarah!” seru Lynx, menghindari tebasan lain yang melesat cepat.

“Aku tidak peduli!” Ling Mei meraung. “Aku hanya tahu satu hal, kau harus mati!”

"Ling Mei, berhentilah. Biarkan aku menjelaskan. Aku akan bertanggung jawab." Lynx berusaha membujuk.

"Tidak perlu! kamu harus mati! VOID CLEAVING SLASH!" Cahaya tajam membelah udara mengarah ke Lynx dengan kekuatan luar biasa.

Namun,

BOOOM!

Serangan itu dengan mudah di hindari oleh Lynx.

Lynx mengumpat dalam hati. "Aku bisa saja membuat Ling Mei pingsan untuk menghentikan efek energi iblis, tapi di tempat seperti ini, jika dia pingsan, bukan hanya pikirannya yang akan terpengaruh, tetapi juga jiwanya!"

Lynx berkelit dari serangan berikutnya, lalu melompat mundur dengan cepat. Matanya menyapu sekitar, mencari sesuatu, "kalung itu. Aku harus menemukannya!"

Tanpa berpikir panjang, ia memanfaatkan kecepatannya, menghindari serangan-serangan Ling Mei sambil mencari artefak yang jatuh. Sementara itu, Ling Mei terus mengejarnya, pedangnya berkedip-kedip dengan aura mematikan.

“Jangan lari, Xiao Ling! Hadapi aku!”

“Aku tidak lari!” Lynx menjawab cepat. “Aku hanya tidak ingin bertarung denganmu, Ling Mei! Kau tidak benar-benar ingin membunuhku...”

“DIAM!”

Ling Mei melompat tinggi, mengayunkan pedangnya ke arah Lynx dengan kekuatan penuh.

Lynx menggertakkan giginya. “Sial… Aku harus menemukannya sebelum terlambat!”

Lynx tidak punya pilihan. Dengan kecepatan luar biasa, ia meninggalkan Ling Mei dan melesat menelusuri jalur yang tadi mereka lewati. Udara berdesir kencang akibat kecepatannya, menciptakan pusaran debu di sepanjang jalurnya.

Aku harus menemukannya secepat mungkin, pikirnya.

Matanya menyapu setiap sudut tanah dengan presisi tinggi, mencari kilauan familiar dari artefak yang terjatuh. Beberapa saat kemudian, ia melihatnya, kalung itu tergeletak di antara bebatuan, kristal rohnya telah retak.

Lynx segera mengambilnya dan mengamati kerusakannya. Sial… Tanpa kristal roh, kalung ini kehilangan kemampuannya untuk menolak energi iblis.

Ia menghela napas dalam, lalu menempelkan tangannya ke kristal yang retak. Aku tidak punya banyak waktu.

Dalam keheningan yang menegangkan, Lynx menyalurkan sedikit kekuatan supernya, kekuatan yang sengaja selama ini disisakannya tidak di segel. Cahaya samar keluar dari telapak tangannya, mengalir masuk ke dalam kristal yang pecah. Lynx menyalurkan energi secukupnya, agar cukup untuk menggantikan fungsi kristal roh yang rusak.

Begitu artefak selesai diperbaiki, Lynx langsung berbalik dan melesat kembali ke tempat Ling Mei.

Saat ia tiba, Ling Mei masih berada dalam keadaan liar, matanya dipenuhi amarah dan niat membunuh yang tak terkontrol. Ia menatap Lynx dengan kebencian yang mendalam, tubuhnya gemetar akibat energi iblis yang mengalir deras di nadinya.

Tanpa membuang waktu, Lynx muncul di hadapannya dan dengan cepat memasangkan kembali kalung itu di lehernya.

Sesaat, formasi pelindung di dalam artefak menyala. Aura gelap yang sebelumnya terus mengalir ke tubuh Ling Mei mulai tertahan di permukaannya.

Namun, ekspresi Lynx segera mengeras.

Sial! Ini tidak cukup!

Kalung itu memang mencegah energi iblis masuk, tetapi energi iblis yang sudah masuk ke dalam tubuh Ling Mei tetap berada di sana!

Ling Mei mencengkeram pedangnya dengan kuat, energi gelapnya masih mengamuk tanpa terkendali. Lynx tahu, jika ia tidak melakukan sesuatu, Ling Mei akan benar-benar kehilangan dirinya sendiri.

Tidak ada cara lain. Aku harus menyerapnya…

Lynx mengepalkan tangan. Ia tidak suka membuka segelnya, tapi kali ini ia tidak punya pilihan lain.

Dengan satu tarikan napas, ia mulai membuka sebagian kecil segel di akar spiritualnya.

BOOM!

Dunia kecil itu langsung berguncang seolah akan runtuh. Langit di atas mereka bergetar, tanah merekah, dan pusaran energi liar meledak dari tubuh Lynx. Udara di sekitar mereka menjadi berat, seakan-akan sesuatu yang sangat menakutkan telah dilepaskan.

Mata Lynx menyala dengan cahaya aneh saat energi iblis mulai terserap dari tubuh Ling Mei, masuk ke dalam dirinya.

Srak! Srak!

Urat-urat hitam muncul di sepanjang lengannya, bergerak liar seperti makhluk hidup yang meronta. Energi iblis yang ia serap bertentangan dengan energi sakti di akar spiritualnya, menciptakan rasa sakit yang luar biasa.

ARGH! Lynx menggertakkan giginya. Tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam.

Namun, ia tidak menghentikan prosesnya. Ia terus menyerap hingga akhirnya, energi iblis yang menguasai tubuh Ling Mei berhasil dikeluarkan sepenuhnya.

Ling Mei terhuyung, lalu pingsan di tempat.

Sementara itu, Lynx jatuh berlutut. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi tubuhnya. Energi iblis yang masuk ke dalamnya mulai memberontak, berbenturan keras dengan energi sakti yang bersemayam di akar spiritualnya.

Aku harus… menyegelnya kembali…

Lynx segera mengeluarkan energi iblis yang ada di akar spiritualnya, dialirkan ke tubuhnya. Lalu dia menutup segel kembali. Namun, rasa sakit yang ia alami semakin menggila. Lynx merasakan energi yang diserapnya terlalu banyak dalam waktu singkat sehingga tubuhnya memerlukan waktu untuk memprosesnya. Antibodi yang dibentuk tubuhnya untuk menolak energi iblis yang akan masuk, namun energi iblis yang ada kali ini, berasal dari akar spiritualnya sehingga berefek kembali ke tubuhnya.

Urat-urat hitam menjalar dari lengannya ke dadanya, berusaha menggerogoti tubuhnya.

Lynx memejamkan mata, menggertakkan gigi menahan derita.

Aku… harus… berhasil!

Beberapa saat kemudian, kondisi Lynx mulai membaik. Meski tubuhnya masih terasa lelah, rasa sakit yang semula menghimpit kini mulai mereda. "Syukurlah aku berhasil menutup segel ini tepat waktu. Jika tidak, maka akar spiritualku tidak akan terkontrol, menyerap semua energi disekitar sini secara otomatis, termasuk energi iblis  dan akan merusak jiwaku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika akar spiritual dan benda yang ada ditubuhku itu tidak ku segel, semua energi akan habis diserapnya."

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya kembali memusatkan perhatiannya pada Ling Mei.

Aku harus memastikan dia aman, pikirnya.

Lynx teringat sesuatu. Pakaian yang mereka beli di Kota Huoling untuk Jelita kini berada di dalam cincin penyimpanan. Perlahan, ia membuka cincin itu dan mengambil pakaian yang dimaksud. Dengan gerakan hati-hati, ia mulai memakaikan pakaian itu pada Ling Mei yang masih belum sadarkan diri. Setiap gerakannya penuh kehati-hatian, takut jika ia membuatnya merasa lebih buruk. Begitu selesai, Lynx menatap wajah Ling Mei yang pucat, lalu mengecup keningnya dengan lembut.

"Entah kamu Leena atau bukan, aku berjanji akan menjagamu," batinnya dengan perasaan campur aduk.

"Aku harus menjauh darinya sementara waktu dan mengikutinya dari jauh. Aku tidak ingin membuatnya kembali marah." batin Lynx.

Setelah itu, Lynx beranjak dan naik ke pohon terdekat, bersembunyi di balik dedaunan lebat untuk memantau keadaan Ling Mei dari kejauhan. Ia tahu meskipun telah menolongnya, ada kemungkinan Ling Mei akan kembali marah begitu sadar sepenuhnya.

